Tampilkan postingan dengan label Belajar Cerdas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Cerdas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Maret 2011

Pengertian Kecerdasan Emosional


Istilah kecerdasan emosional pada mulanya diperkenalkan oleh dua ahli psikologi, yaitu Peter Salovey dari Universitas Harvard, dan John Mayer dari Universitas New Hampshire. Istilah ini kemudian dipopulerkan oleh Daniel Goleman, penulis buku laris Emotional Intelligence: Why it can matter more than IQ, yang dalam edisi Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia dengan judul “Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional); Mengapa EI Lebih Penting daripada IQ.”
Salovey dan Mayer menggunakan istilah kecerdasan emosional untuk menggambarkan kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya, dan mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual (Stein & Book, 2004: 30).
Daniel Goleman (2003: 45) mencirikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir; berempati dan berdoa.
Pengertian yang lain disampaikan oleh Pamugari Widyastuti, dosen psikologi Universitas Indonesia. Namun dalam hal ini ia membedakan antara istilah Emotional Intelligence (EI) dengan Emotional Quotient (EQ). Menurutnya, emotional intelligence adalah kemampuan mengenali perasaan-perasaan yang positif (menyenangkan) dan negatif (tidak menyenangkan), serta kemampuan mengubah suatu perasaan negatif menjadi positif. Sedangkan emotional quotient adalah kesadaran emosi dan kemampuan mengelola emosi, yang memungkinkan seseorang mampu menyelaraskan emosi dan nalarnya sehingga kebahagiaan dapat tercapai secara optimal (Anwar & Mohammad, http://www.gatra.com).
Seorang pakar psikologi, Robert K. Cooper –sebagaimana dikutip oleh Wijaya (2007: 4)– mengatakan bahwa kecerdasan emosional merupakan kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi. Hal ini berarti kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, pengaruh untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa pengertian tersebut di atas memberikan suatu pemahaman bahwa kecerdasan emosi merupakan kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain. Dalam hal ini yang berperan adalah hati. Hati mengaktifkan nilai-nilai yang paling dalam, mengubahnya dari sesuatu yang dipikir menjadi sesuatu yang dijalani. Hati mengetahui hal-hal yang dapat atau tidak dapat diketahui oleh pikiran. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas, dan komitmen (Wijaya, 2007: 5).
Menurut konsep kecerdasan emosional, yang di-manage adalah emosi. Term emosi ini bukanlah emosi yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari karena term emosi ini sangat berbeda dengan pengertian emosi dalam psikologi. Emosi dalam pemakaian sehari-hari sering mengacu kepada ketegangan yang terjadi pada individu akibat dari tingkat kemarahan yang tinggi. Singkatnya, kata emosi lazim dipahami oleh masyarakat sebagai ekspresi marah. Hal ini tentu berbeda dengan apa yang dimaksud dalam kajian tentang kecerdasan emosional.
Secara etimologi, emosi berasal dari akar kata bahasa latin movere yang berarti menggerakkan atau bergerak. Kemudian ditambah dengan awalan ‘e’ untuk memberi arti bergerak menjauh. Makna ini menyiratkan kesan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi (Hude, 2006: 16). Menurut makna paling harfiah, Oxford English Dictionary, sebagaimana dikutip oleh Daniel Goleman (2003: 411), mendefiniskan emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu; setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap.
Menurut Crow & Crow, emosi merupakan suatu keadaan yang bergejolak pada diri individu yang berfungsi sebagai inner adjustment  (penyesuaian dalam diri) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan individu (Hartati, dkk, 2004: 90). Definisi yang lebih jelas mengartikan bahwa emosi adalah suatu gejala psiko-fisiologis yang menimbulkan efek pada persepsi, sikap, dan tingkah laku, serta mengejawantah dalam bentuk ekspresi tertentu. Misalnya, emosi senang (joy) yang berkombinasi dengan penerimaan (acceptance) akan melahirkan cinta (love); emosi sedih (sadness) yang berkombinasi dengan kejutan (surprise) melahirkan kekecewaan mendalam (disappointment); cinta (love) berkombinasi dengan marah (anger) melahirkan kecemburuan (jealousy) (Hude, 2006: 23).
Di dunia Islam, kajian atas emosi bukanlah barang baru. Al Qur’an juga hadits banyak sekali menyinggung tentangnya. Di dalam al Qur’an, menurut Nasaruddin Umar, aktifitas kecerdasan emosional seringkali dihubungkan dengan qalb (kalbu). Oleh karena itu, kata kunci utama EQ di dalam al Qur’an dapat ditelusuri melalui kata kunci qalb (kalbu) dan tentu saja dengan istilah-istilah lain yang mirip dengan fungsi kalbu seperti jiwa (nafs), intuisi (hadas), dan beberapa istilah lainnya (Hude, 2006: ix). Lebih lanjut, Nasarudin Umar mengelompokkan jenis-jenis dan sifat kalbu (qalb) dalam al Qur’an ke dalam dua kelompok, yaitu kalbu yang positif dan kalbu yang negatif.
a.      Kalbu yang positif:
1)      Kalbu yang damai (qalb salim) (Q.S. al Syuara’: 89)
2)      Kalbu yang bertaubat (qalb munib) (Q.S. Qaaf: 33)
3)      Kalbu yang tenang (qalb muthmainah) (Q.S. al Nahl: 6)
4)      Kalbu yang berfikir (qulub ya’qilun) (Q.S. al Haj: 46)
5)      Kalbu yang mukmin (qulub al mu’min) (Q.S. al Fath: 4)
b.      Kalbu yang negatif:
1)      Kalbu yang sewenang-wenang (qalb mutakabbir) (Q.S. al Mu’min: 35)
2)      Kalbu yang sakit (qalb maridh) (Q.S. al Ahzab: 32)
3)      Kalbu yang melampaui batas (qulub al mu’tadin) (Q.S. Yunus: 74)
4)      Kalbu yang berdosa (qulub mujrimin) (Q.S. al Hijr: 12)
5)      Kalbu yang terkunci, tertutup (khatama Allah ‘ala qulubihim) (Q.S. al Baqarah: 7)
6)      Kalbu yang terpecah-pecah (qulubuhum syatta) (Q.S. al Hasyr: 14) (Hude, 2006: xi).
Senada dengan Hude adalah Agustian (2006: 112) yang membagi emosi ke dalam kategori emosi yang tercipta ketika manusia menjauh atau keluar dari garis orbit (off line) dan emosi yang masuk dalam garis orbit (in line). Yang masuk dalam kategori off line adalah emosi yang keluar dari tuntutan hati nurani, sedangkan in line adalah yang sesuai dengan hati nurani. Emosi-emosi tersebut antara lain:
1.      Marah, ketika harga diri terguncang (off line)
2.      Kecewa, ketika suara hati tidak sesuai dengan kenyataan (off line)
3.      Sedih, pada saat merasa kehilangan (off line)
4.      Menangis, ketika God Spot tergetar (off line atau in line)
5.      Bahagia, ketika suara hati tersentuh (in line)
6.      Merasa damai, ketika suara hati menjadi kenyataan (in line)
7.      Termotivasi, ketika bersemangat untuk merealisasikan suara hati (in line)
8.      Antusias, saat diri merasa mampu untuk merealisasikan suara hati (off line)
9.      Merasa aman, ketika suara hati terpenuhi (in line)
10.  Kesal, ketika sebuah kenyataan jauh dari suara hati (off line)
11.  Menyesal, ketika kesempatan untuk mengaplikasikan suara hati terlewatkan (off line)
Adapun pembagian emosi menurut Daniel Goleman (2003: 412) adalah sebagai berikut:
1)      Amarah; seperti beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, dan tindak kekerasan.
2)      Kesedihan; seperti pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, depresi berat.
3)      Rasa takut; seperti cemas, takut, gugup, khawatir, waspada, tidak tenang, was was, fobia, dan panik.
4)      Kenikmatan; seperti bahagia, gembira, riang, puas, terhibur, bangga, takjub, senang sekali, dsb.
5)      Cinta; seperti penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih.
6)      Terkejut; takjub, terkesiap, terpana dsb.
7)      Jengkel; jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah dsb.
8)      Malu; rasa salah, malu hati, kesal hati, hina, aib, hati hancur lebur.
Uraian tersebut di atas jelas memperlihatkan bahwa qalb (kalbu) secara psikologis memiliki daya-daya emosi yang menimbulkan daya rasa (al syu’ur) yang positif atau yang negatif. Jika daya rasa positif diupayakan untuk selalu diberdayakan, maka potensi ini sangat mungkin untuk dapat dijadikan sebagai media pengembangan tingkah laku salih yang berbasis rasa cinta, senang, riang, percaya (iman), tulus (ikhlas) dan rasa persaudaraan. Namun jika daya rasa negatif yang dibiarkan, tanpa ada upaya pengendaliannya, maka perilaku yang nampak dipermukaan cenderung selalu menolak terhadap kebenaran, sekalipun datangnya dari Tuhan. Hal ini dapat terjadi, dikarenakan keadaan psikologis sudah didominasi oleh daya rasa kebencian, ketidaksenangan, kekufuran, keingkaran dan kemunafikan, yang dalam bahasa al Ghazali disebut al Ghadlab (Hadziq, 2005: 107). Oleh karena itu, daya-daya emosi tersebut harus dikelola dan diatur sedemikian rupa agar lebih cerdas secara emosional.
Secara medis –menurut Dr. Mark George, seorang ahli saraf dari International of Mental Health– di dalam otak manusia terdapat dua komponen yang disebut dengan sistem limbik  dan amigdala.  Di dalam kedua komponen otak inilah emosi manusia diatur. Kecerdasan emosi yang sekarang diketahui sebagai salah satu kunci sukses kehidupan, merupakan fungsi dari kedua komponen otak ini (Pasiak, 2003: 99).
Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana caranya memaksimalkan kedua komponen otak tersebut agar emosi menjadi lebih cerdas? Menurut Peter Salovey terdapat 5 (lima) dimensi EQ. Apabila seorang individu menguasai kompetensi yang menyebar pada kelima dimensi EQ tersebut, akan membuat seseorang menjadi lebih paham terhadap pribadinya atau memiliki kecerdasan emosional (Goleman, 2003: 58). Kelima dimensi itu adalah mengenali emosi diri (self awareness), mengelola emosi (self regulation), memotivasi diri sendiri (motivation), mengenali emosi orang lain (empathy), dan membina hubungan atau keterampilan sosial (social skill).
1.      Mengenali emosi diri (self awareness).
Kompetensi dalam dimensi pertama ini adalah mengenali emosi sendiri, mengetahui kekuatan dan keterbatasan diri, dan keyakinan akan kemampuan sendiri. Hal ini penting mengingat ketidakmampuan untuk mencermati perasaan sesungguhnya akan membuat seorng individu dikuasai oleh perasaan. Orang yang memiliki keyakinan yang lebih tentang perasaan adalah pilot yang handal bagi kehidupan mereka (Goleman, 2003: 58).
Ajaran Socrates “kenalilah dirimu” serta hadits Nabi Muhammad SAW yang artinya: “barang siapa yang mengenali dirinya, maka ia benar-benar mengenali Tuhannya”, jelas menunjukkan inti kecerdasan emosional (Sukidi, 2004: 44).
2.      Mengelola emosi (self regulation)
Emosi tentu saja tidak cukup hanya dikenali saja, tetapi lebih dari itu harus pula disadari eksistensinya dan dikelola agar dapat memberi pengaruh yang positif dalam kehidupan. Oleh karena itu, kompetensi dimensi kedua ini adalah mengelola emosi. Perasaan perlu ditangani dan dikendalikan agar dapat terungkap dengan pas. Ketika perasaan sedang senang tidak perlu terlalu berlebihan dan ketika sedang down, murung, cemas, atau tersinggung, juga tidak terlalu berlebihan.
3.      Memotivasi diri sendiri (motivation)
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri, serta untuk berkreasi. Goleman (2003: 58) menyatakan bahwa kendali diri emosional –menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati– adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang.
4.      Mengenali emosi orang lain (empathy)
Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki oleh orang lain (Goleman, 2003: 59). Mengasah kemampuan untuk mengenal emosi orang lain sangat diperlukan dalam berhubungan dengan siapapun karena hal ini akan menentukan cara kita mensikapi keadaan sekitar. Selain itu, kemampuan mengenal emosi orang lain dan mensikapinya secara tepat akan berpengaruh besar pada “kesuksesan” dalam berhubungan dengan orang lain.
5.      Membina hubungan atau keterampilan sosial (social skills)
Maksudnya adalah kemampuan menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain. Diantaranya adalah kemampuan persuasif (mempengaruhi), mendengar dengan terbuka dan memberi pesan yang jelas, kemampuan menyelesaikan silang pendapat, semangat leadership, kolaborasi dan kooperasi, serta team building (Sadili, http://groups.google.com).
Uraian tersebut diatas memberi sebuah pemahaman bahwa dalam mengarungi kehidupan seseorang tidak hanya cukup memiliki IQ yang tinggi saja, apalagi ketika berinteraksi interpersonal maupun intrapersonal. Oleh karena itu perlu di dukung pula jenis kecerdasan yang lain, seperti kecerdasan emosional. Keberhasilan seseorang dalam kehidupan sangat ditentukan oleh keduanya. Kecerdasan intelektual (IQ) tidak dapat bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa kecerdasan emosional. Apabila keduanya dapat berinteraksi dengan baik, maka akan semakin bertambah kualitas kehidupan seseorang.
Menurut Wipperman (2007: 5) emosi dan akal bagaikan dua sisi mata uang. EQ adalah penjelmaan dari suatu tolok ukur kekuatan otak (IQ). Jadi, IQ dan EQ adalah dua sumber yang sinergis: tanpa yang satu maka yang lainnya menjadi tidak lengkap dan tidak efektif. Berbekal IQ yang tinggi, seseorang dapat mendapatkan nilai yang tinggi dalam tes, tetapi tidak akan menjamin dapat menjadi yang terdepan dalam hidup. Hal ini karena domain EQ adalah hubungan-hubungan personal dan interpersonal; daerah ini bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, sensitifitas sosial, dan adaptabilitas sosial.

DAFTAR PUSTAKA
Stein, Steven J. & Book, Howard E., 2004, Ledakan EQ; 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses, terj. Trinanda Rainy Januarsari dan Yudhi Murtanto, Cet. V, Bandung: Kaifa

Goleman, Daniel, 2003, Kecerdasan Emosional, terj. T. Hermaya, Cet. XIII, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Anwar, Mauluddin dan Mohammad, Herry, “Kecerdasan Beragama”, Jakarta: Gatra, Nomor 6/IV, 27 Desember 1997. Lihat dalam http://www.gatra. com/IV/6/aga-6.html

Wijaya, Diana, 2007, Peluang Meningkatkan Karir dengan Inteligensi (Kecerdasan), Jakarta: Restu Agung

Hude, M. Darwis, 2006, Emosi; Penjelajahan Religio-Psikologis tentang Emosi Manusia di dalam Al Qur’an, Jakarta: Erlangga

Hartati, Netty, dkk, 2004, Islam dan Psikologi, Jakarta: RajaGrafindo Persada

Agustian, Ari Ginanjar, 2006, Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power; Sebuah Inner Journey melalui al Ihsan, Cet. X, Jakarta: Arga

Hadziq, Abdullah, 2005, Rekonsiliasi Psikologi Sufistik dan Humanistik, Semarang: RaSAIL

Pasiak, Taufik, 2003, Revolusi IQ/EQ/SQ; Antara Neurosains dan Al Qur’an, Bandung: Mizan

Sukidi, 2004, Rahasia Sukses Hidup Bahagia Kecerdasan Spiritual; Mengapa SQ Lebih Penting daripada IQ dan EQ, Cet. II, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Sadili, Muhtar, “Kecerdasan Paripurna Anak Didik” dalam http://groups.google.com

Wipperman, Jean, 2007, Meningkatkan Kecerdasan Emosional; Program Praktis untuk Merangsang Kecerdasan Emosional Anda, terj. Winianto, Jakarta: Prestasi Pustakaraya




Jumat, 28 Januari 2011

Kecerdasan Hanyalah Potensi...!!!


Kecerdasan merupakan sebuah kapasitas umum dari kesadaran individu untuk berpikir, menyesuaikan diri, memecahkan masalah yang dihadapi secara bijaksana, cepat, dan tepat. Berdasarkan hal ini, maka pada dasarnya setiap individu memiliki potensi kecerdasan. Paling tidak, inilah yang dikatakan oleh Edward De Bono, seorang bapak berpikir lateral.
Menurut Edward De Bono, kecerdasan hanyalah merupakan potensi, seperti halnya dengan tenaga kuda dari sebuah mobil. Ada satu mobil sederhana yang dikemudikan dengan baik atau mobil kuat yang dikemudikan dengan sembarangan. Perbedaannya ada pada keterampilan berpikir yang dikembangkan untuk menangani informasi dan dunia di sekitar kita. Berkaitan dengan hal ini, Edmund Bachman berpendapat bahwa potensi bukanlah kemampuan maksimal yang permanen, namun suatu rentang dinamis yang dapat diperluas (Bachman, 2005: 25). Ini berarti bahwa meskipun bakat-bakat alamiah seseorang dimulai dengan satu potensi tertentu masih dapat diangkat lebih tinggi lagi dengan bantuan latihan dan pengkondisian yang tepat.
Pandangan Bachman ini selaras dengan pendapat Robert Sternberg yang menyatakan bahwa faktor terpenting yang menentukan seseorang mencapai keahlian tertentu “bukanlah kemampuan yang sudah melekat sebelumnya, tetapi pergulatan dengan maksud yang jelas.” Atau, sebagaimana diakui oleh Alfred Binet, orang yang pada awalnya paling cerdas tidak selalu menjadi paling cerdas pada akhirnya (Dweck, 2007: 19). Manusia mungkin memulai dengan temperamen yang berbeda dan bakat-bakat yang berbeda, tetapi jelas bahwa pengalaman, latihan dan upaya personallah yang menentukan jalan mereka selanjutnya.
Hal demikian itu dikarenakan manusia memiliki kemampuan yang lebih baik untuk belajar seumur hidup dan mengembangkan otak mereka daripada perkiraan mereka selama ini. Bahkan, saat ini sebagian besar pakar sepakat bahwa kecerdasan bukanlah ini atau itu. Kecerdasan bukanlah sifat bawaan (nature) atau hasil binaan (nurture), gen atau lingkungan. Konsepsi ini membawa pengertian bahwa ada proses memberi dan menerima yang terus berlangsung diantara keduanya. Sebagaimana dikatakan Gilbert Gottlieb, sebenarnya gen dan lingkungan tidak sekedar bekerja sama seiring dengan perkembangan manusia, tetapi gen juga membutuhkan masukan dari lingkungan untuk dapat bekerja secara tepat (Dweck, 2007: 18).
Uraian di atas dapat dipahami bahwa pada hakekatnya kecerdasan adalah tidak lebih dari sekedar potensi yang dimiliki oleh manusia untuk melakukan sesuatu. Potensi inilah yang seharusnya terus dikembangkan melalui pembelajaran, pelatihan dan upaya-upaya lain yang dapat meningkatkan potensi tersebut. Setinggi dan sebesar apapun potensi yang dimiliki oleh seorang individu tidak akan dapat menjamin keberhasilan dan kebahagiaan individu tersebut dalam menjalani kehidupan. So, banyak belajar dan berlatihlah dalam bidang apapun yang anda senangi untuk melejitkan potensi kecerdasan anda setinggi mungkin….

DAFTAR PUSTAKA

Bachman, Edmund, 2005, Metode Belajar Berpikir Kritis dan Inovatif, terj. Bahrul Ulum, Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher
Dweck, Carol S., 2007, Change Your Mindset Change Your Life; Cara Baru Melihat Dunia dan Hidup Sukses tak Terhingga, terj. Ruslani, Cet. III, Jakarta: Serambi

Minggu, 21 November 2010

Cristiano Ronaldo Vs Einstein: Siapa Lebih Cerdas?



Pada posting "apa itu kecerdasan??" disebutkan bahwa kecerdasan menurut Howard Gardner merupakan kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata. Menurutnya, kecerdasan itu meliputi kecerdasan linguistik, logika/matematika, interpersonal, intrapersonal, musik, naturalis, spasial dan kinestetik
Kecerdasan versi Gardner, yang sering disebut dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligence) ini juga seringkali membawa kepada pertanyaan-pertanyaan yang terdengar konyol, namun pada hakekatnya perlu mendapatkan perenungan, seperti misalnya: lebih cerdas mana Isaac Newton  bila dibandingkan dengan Valentino Rossi? Lebih cerdas mana Cristiano Ronaldo dengan Albert Einstein? Lebih cerdas mana Roman Abramovic dibandingkan Jalaluddin Rumi? Atau siapa yang lebih cerdas antara Barack Obama dan Kahlil Gibran?
Berdasarkan teori multiple intelligences-nya Gardner, tentu tidak dapat diperbandingkan mana yang lebih cerdas karena pada dasarnya setiap manusia memiliki potensi kecerdasan yang bermacam-macam. Bahkan, sejatinya setiap manusia memiliki beberapa jenis kecerdasan sekaligus, meskipun sebagian jauh lebih berkembang dibanding yang lainnya. Ada orang yang lebih menonjol kecerdasan interpersonalnya dibandingkan kecerdasan intrapersonal yang dimiliki. Ada juga yang lebih menonjol kecerdasan musikalnya daripada kecerdasan logis-matematis yang dimiliki. Satu hal yang penting adalah pemahaman terhadap diri sendiri: potensi kecerdasan apa yang lebih menonjol dan layak untuk terus dikembangkan. Jelasnya, teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences) merupakan validasi tertinggi gagasan bahwa perbedaan individu adalah penting (Jasmine, 2007: 11).
Berbagai pendapat para ahli tersebut di atas menampakkan adanya pergeseran arah, namun selalu mengandung pengertian bahwa inteligensi atau kecerdasan adalah kekuatan atau kemampuan untuk melakukan sesuatu.
Masyarakat umum mengenal istilah inteligensi sebagai istilah yang menggambarkan kecerdasan, kepintaran ataupun kemampuan untuk memecahkan problem yang dihadapi. Pada umumnya, para ahli menerima pengertian akan inteligensi sebagaimana istilah tersebut digunakan oleh orang awam. Kekaburan ruang lingkup konsep mengenai inteligensi (kecerdasan) menyebabkan sebagian ahli bahkan tidak merasa perlu untuk berusaha memberikan batasan yang pasti. Bagi mereka ini banyak diantara definisi yang telah dirumuskan ternyata terlalu luas untuk dapat disalahkan dan terlalu kabur untuk dapat dimanfaatkan. Definisi para ahli dan pengikutnya memang tidak selalu mengandung perbedaan arti yang tajam walaupun memperlihatkan adanya sudut pandang yang berbeda (Azwar, 2002: 2), maka tidak heran jika kemudian bermunculan berbagai konsep tentang kecerdasan, baik kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan-kecerdasan yang lain.
Dan yang paling penting adalah bertanya pada diri sendiri kecerdasan apa yang kita miliki? sudahkah  "mendidik kecerdasan" kita untuk terus kita lejitkan setinggi mungkin....??

Pengertian Kecerdasan


Dewasa ini, kemapanan kecerdasan intelektual (IQ) sebagai tolok ukur tingkat kecerdasan seseorang tampaknya mulai “terusik” dengan munculnya berbagai macam konsep kecerdasan seperti EQ, SQ, ESQ, dan lain sebagainya. Sebagai konsekuensi logisnya, maka seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi belum tentu dapat dikatakan sebagai cerdas apabila belum memenuhi “kualifikasi” mengenai kecerdasan yang lain.
Pertanyaannya sekarang adalah apa sesungguhnya kecerdasan itu? Istilah kecerdasan (inteligensi) pertama kali diperkenalkan oleh Charles Spearman pada tahun 1904. Spearman mengungkapkan bahwa istilah inteligensi digunakan untuk mempermudah dalam mempelajari kemampuan individu, dan inteligensi ini merupakan apa yang diukur oleh tes inteligensi (kecerdasan) (Mangkunegara, 1993: 9).
Robert Sternberg, penulis buku “Successfull Intelligence” mengartikan  inteligensi sebagai kapasitas belajar dari pengalaman dan kemampuan mengadaptasi lingkungan sekeliling (Atmosoeprapto, 2004: 147).
Menurut H.H. Goddard –sebagaimana dikutip oleh Azwar (2002: 5)–  kecerdasan atau inteligensi adalah tingkat kemampuan pengalaman seseorang untuk menyelesaikan masalah-masalah yang langsung dihadapi dan untuk mengantisipasi masalah-masalah yang akan datang.
Wechsler memberikan definisi kecerdasan/inteligensi sebagai suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan seseorang untuk dapat bertindak secara terarah, berpikir secara baik dan bergaul dengan lingkungan secara efisien (Mönks & Knoers, Haditono, 2006: 237).
C.P. Chaplin memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Sementara itu, Anita E. Woolfolk mengemukan bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga pengertian, yaitu: (1) kemampuan untuk belajar; (2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh; dan (3) kemampuan untuk beradaptasi dengan dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya (http://akhmadsudrajat.wordpress.com).
Pengertian yang lain dikemukakan oleh Howard Gardner, seorang psikolog perkembangan dan profesor pendidikan dari Graduate School of Education, Harvard University, AS, yang mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata (Baharuddin & Wahyuni, 2007: 146).
Pengertian yang diberikan Gardner ini berbeda dengan pengertian yang dipahami sebelumnya, dimana sebelum Gardner, pengukuran tingkat kecerdasan seseorang didasarkan pada tes IQ saja, yang menurutnya hanya menonjolkan kecerdasan matematis-logis dan linguistik.
Pemahaman Gardner tentang kecerdasan seseorang ini telah mengubah konsep kecerdasan. Menurut Gardner, kecerdasan seseorang diukur bukan dengan tes tertulis, tetapi bagaimana seseorang dapat memecahkan problem nyata dalam kehidupan (Baharuddin & Wahyuni, 2007: 146). Bahkan ia juga berpendapat bahwa kecerdasan seseorang dapat dikembangkan melalui pendidikan dan jumlahnya banyak, yaitu kecerdasan linguistik, logika/matematika, interpersonal, intrapersonal, musik, naturalis, spasial dan kinestetik (Gunawan, 2003:142).

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design