Senin, 11 April 2011

Efisiensi Belajar: Pengertian dan Faktor Penunjangnya


Efisien, menurut Freemont E. Kast, adalah optimasi sumber daya, yaitu yang termudah cara mengerjakannya, termurah biayanya, tersingkat waktunya, teringan bebannya, dan terpendek jaraknya. Bila dalam suatu usaha mencapai tujuan tertentu dianggarkan 100 juta, tetapi dengan metode baru dapat dikerjakan dengan 80 juta, maka terdapat efisiensi sebesar 20 juta.[1]
Dari sini dapat dipahami bahwa efisiensi adalah sebuah konsep yang mencerminkan perbandingan terbaik antara usaha dengan hasilnya.[2] Efisiensi berarti pula melakukan segala sesuatu secara benar, tepat, akurat, dan mampu membandingkan antara besaran input dan output.[3]
Dalam konteks belajar, efisiensi mempunyai arti, meningkatkan kualitas belajar dan penguasaan materi belajar; mempersingkat waktu belajar; meningkatkan kemampuan guru, mengurangi biaya tanpa mengurangi kualitas belajar mengajar. Bagi suatu lembaga pendidikan, pengertian efisiensi tersebut tampaknya mengarah pada efisiensi yang memberikan arti peningkatan kemampuan guru dalam proses belajar-mengajar. Hal ini karena dalam proses belajar mengajar yang mementingkan hubungan peserta didik dan guru, guru menjadi pihak yang aktif.[4]
Namun bagi peserta didik, efisiensi dapat dimaknai menjadi dua macam efisiensi, yaitu efisiensi usaha belajar dan efisiensi hasil belajar.
1.      Efisiensi Usaha Belajar
Suatu kegiatan belajar dapat dikatakan efisien kalau prestasi yang diinginkan dapat dicapai dengan usaha seminimal mungkin. Usaha dalam hal ini adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mendapat hasil belajar yang memuaskan, seperti: tenaga dan pikiran, waktu, peralatan belajar, dan hal-hal lain yang relevan dengan kegiatan belajar. Efisiensi dari sudut usaha belajar ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar di atas memperlihatkan kepada kita bahwa C lebih efisien daripada A dan B, karena dengan usaha yang minim dapat mencapai hasil belajar yang sama tingginya dengan prestasi belajar A dan B. Padahal, A dan B telah berusaha lebih keras daripada C.
2.      Efisiensi Hasil Belajar
Sebuah kegiatan belajar dapat pula dikatakan efisien apabila dengan usaha belajar tertentu memberikan prestasi belajar tinggi. Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar berikut ini:
Gambar tersebut di atas memperlihatkan bahwa C adalah peserta didik yang paling efisien ditinjau dari prestasi yang dicapai, karena ia menunjukkan perbandingan yang terbaik dari sudut hasil. Dalam hal ini, meskipun usaha belajar C sama besarnya dengan A dan B (lihat kotak usaha belajar), ia telah memperoleh prestasi yang optimal atau lebih tinggi daripada prestasi A dan B.[5]
Pertanyaannya sekarang adalah faktor apa yang dapat menunjang efisiensi belajar? Mengenai faktor penunjang efisiensi belajar ini, paling tidak terdapat tiga faktor yang dapat menjadi penunjang efisiensi dalam proses pembelajaran, yaitu faktor internal, faktor eksternal, dan materi pelajaran serta pendekatan belajar.
1.         Faktor internal (faktor dari dalam), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani peserta didik; faktor-faktro internal ini meliputi faktor fisiologis dan psikologis.
a.       Faktor fisiologis, yakni yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor ini juga dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
a)      Keadaan tonus jasmani, yakni keadaan sakit tidaknya kondisi fisik.
b)      Keadaan fungsi jasmani. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologi pada tubuh manusia sangat mempengaruhi hasil belajar, terutama fungsi pancaindra, seperti:pendengaran, penglihatan dan sebagainya.
b.      Faktor psikologis, yakni yang berkaitan dengan keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor yang mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan peserta didik, motivasi, minat, sikap, dan bakat.[6]
2.      Faktor eksternal (faktor dari luar peserta didik), yakni kondisi lingkungan di sekitar peserta didik;
Selain karakteristik peserta didik atau faktor-faktor internal, proses belajar juga dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan non-sosial.
a)      Lingkungan Sosial, meliputi:
1)   Lingkungan sosial sekolah; seperti guru, administrasi, teman-teman sekelas. Hubungan harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi peserta didik untuk belajar lebih baik di sekolah.
2)   Lingkungan sosial masyarakat. Lingkungan yang kumuh, banyak pengangguran, dan anak telantar tentunya sedikit banyak akan berpengaruh pada aktivitas belajar peserta didik.
3)   Lingkungan sosial keluarga. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orang tua, serta pengelolaan keluarga akan dapat memberi dampak pada aktivitas peserta didik.
b)      Lingkungan non-sosial masyarakat, meliputi:
1)   Lingkungan alamiah. Kondisi udara segar, tidak panas, dan suasana yang sejuk dan tenang tentunya akan berpengaruh pada aktivitas belajar peserta didik.
2)   Faktor instrumental, yaitu perangkat belajar. Termasuk dalam kategori ini adalah gedung sekolah, fasilitas belajar, kurikulum sekolah, peraturan sekolah, buku panduan, silabi dan lain sebagainya.[7]
3.      Faktor materi pelajaran (yang diajarkan ke peserta didik). Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan peserta didik, begitu juga dengan metode mengajar guru, disesuaikan dengan kondisi perkembangan peserta didik. Karena itu, agar terjadi efisiensi dalam proses belajar, maka guru harus menguasai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi peserta didik.[8]


DAFTAR PUSTAKA
Sugiyono, “Perspektif  Manajemen Pendidikan”, diktat, Yogyakarta: Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta, t.t.
Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Jakarta: Remaja Rosda Karya, Cet. IV, 1999
 “Percepatan Diri” dalam http://www.kafemuslimah.com/article_detail.php?id=837
Sophia Rahmi, “Hubungan Guru dan Murid” dalam http://www.pikiran-rakyat.com/ cetak/2005/1005/03/1104.htm
Baharudin dan Wahyuni, Esa Nur, Teori Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2007



[1] Sugiyono, “Perspektif  Manajemen Pendidikan”, diktat, Yogyakarta: Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta, t.t., hlm. 6
[2] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Jakarta: Remaja Rosda Karya, Cet. IV, 1999, hlm. 125
[3] Lihat “Percepatan Diri” dalam http://www.kafemuslimah.com/article_detail.php?id=837
[4] Sophia Rahmi, “Hubungan Guru dan Murid” dalam http://www.pikiran-rakyat.com/ cetak/2005/1005/03/1104.htm
[5] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan............Op. Cit., hlm. 126
[6] Baharudin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2007, hlm.  19-25
[7] Ibid., hlm. 26 et.seq.
[8] Ibid., hlm. 28

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design