Rabu, 12 Januari 2011

Posisi Ranah Kognitif dalam Taksonomi Bloom


Dalam dunia pendidikan dikenal istilah taksonomi yang merujuk pada tujuan pendidikan. Salah satu taksonomi yang terkenal adalah taksonomi Bloom yang disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Namun begitu, sebenarnya apa yang dikenal sebagai taksonomi Bloom ini adalah merupakan hasil kelompok penilai di Universitas yang terdiri dari Benjamin S. Bloom, M.D. Engelhart, E. Furst, W.H. Hill, dan D.R. Krathwohl, yang kemudian didukung pula oleh Ralph W. Tyler.[1]
Menurut taksonomi Bloom ini tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan),  dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkhinya. Domain-domain tersebut antara lain:
a)      Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. Dalam ranah ini hirarkinya adalah pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), aplikasi (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation).
b)      Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Dalam ranah ini hirarkinya adalah penerimaan (receiving/attending), tanggapan (responding), penghargaan (valuing), pengorganisasian (organization), dan karakterisasi berdasarkan nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex).
c)      Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin. Ranah ini tersusun atas persepsi (perception), kesiapan (set), respon terpimpin (guided response), mekanisme (mechanism), respon tampak yang kompleks (complex overt response), penyesuaian (adaptation), dan penciptaan (origination).[2]
Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang ada pada tingkatan pertama.
Menurut Clifford T. Morgan dan Richard A. King, domain kognitif merupakan aspek sikap yang berkenaan dengan penilaian individu terhadap obyek atau subyek. Informasi yang masuk ke dalam otak manusia, melalui proses analisis, sintesis, dan evaluasi akan menghasilkan nilai baru yang akan diakomodasi atau diasimilasikan dengan pengetahuan yang telah ada di dalam otak manusia. Nilai-nilai baru yang diyakini benar, baik, indah, dan sebagainya, pada akhirnya akan mempengaruhi emosi atau komponen afektif dari sikap individu. Oleh karena itu, komponen afektif dapat dikatakan sebagai perasaan (emosi) individu terhadap obyek atau subyek, yang sejalan dengan hasil penilaiannya. Sedang komponen psikomotor berkenaan dengan keinginan individu untuk melakukan perbuatan sesuai dengan keyakinan dan keinginannya. Sikap seseorang terhadap suatu obyek atau subyek dapat positif atau negatif. Manifestasi sikap terlihat dari tanggapan seseorang apakah ia menerima atau menolak, setuju atau tidak setuju terhadap obyek atau subyek.[3]
Dari sini dapat dipahami bahwa komponen kognitif, afektif, dan psikomotor merupakan suatu kesatuan sistem, sehingga tidak dapat dilepas satu dengan lainnya. Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk tingkah laku, baik tingkah laku dalam berpikir, bersikap, dan berbuat.[4]  Dan inilah makna dari kata “belajar”, yakni sebuah proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh sebuah perubahan tingkah laku yang menetap, baik  yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati secara langsung, yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan.[5]

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Edisi Revisi), Jakarta: Bumi Aksara, Cet. VI, 2006
http://id.wikipedia.org /wiki/Taksonomi_Bloom  
http://www.ekofeum .or.id/ artikel.php?cid=51 “Pembelajaran yang Menumbuhkan Sikap Wirausahawan”
W. Gulö, Strategi Belajar-Mengajar, Jakarta: Grasindo, 2002
Roziqin, Muhammad Zainur, Moral Pendidikan di Era Global; Pergeseran Pola Interaksi Guru-Murid di Era Global, Malang: Averroes Press, 2007



[1] Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Edisi Revisi), Jakarta: Bumi Aksara, Cet. VI, 2006, hlm. 117
[2] Beberapa istilah lain yang juga menggambarkan hal yang sama dengan ketiga domain tersebut di antaranya seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu: cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, juga dikenal istilah: penalaran, penghayatan, dan pengamalan. Lihat dalam http://id.wikipedia.org /wiki/Taksonomi_Bloom
[3] Lihat “Pembelajaran yang Menumbuhkan Sikap Wirausahawan” dalam http://www.ekofeum .or.id/ artikel.php?cid=51
[4] W. Gulö, Strategi Belajar-Mengajar, Jakarta: Grasindo, 2002, hlm. 23
[5] Muhammad Zainur Roziqin, Moral Pendidikan di Era Global; Pergeseran Pola Interaksi Guru-Murid di Era Global, Malang: Averroes Press, 2007, hlm. 62

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design